Penyelam TNI AL Cari Jenazah Dibekali USBL Transponder


TNI AL menurunkan tim penyelam dari Yontaifib Marinir, Kopaska, dan Denjaka.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Tim penyelam operasi pencarian dan pertolongan atau search and rescue (SAR) dari Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) dibekali ultra short baseline (USBL) transponder. Alat itu untuk menemukan alat perekam pembicaraan pilot atau cockpit voice recorder (CVR) di pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, Sabtu (9/1) sore WIB.

“Alat itu dikontrol dari KRI Rigel-933,” kata Wakil Komandan Satgasla Operasi SAR Sriwijaya Air, Kolonel Laut (P) Teddie Bernard di KRI Rigel, Kamis (14/1).

Pantauan di lokasi, terdapat tiga buat alat berwarna kuning seukuran botol minum 750 mili liter. Alat itu digunakan tim penyelam pasukan elite TNI AL, yakni yakni Batalyon Intai Ambfibi (Yontaifib) Marinir, Satuan Komando Pasukan Katak (Kopaska), dan Detasemen Jalamangkara (Denjaka).

Sebelum digunakan, tim SAR KRI Rigel-933 dari Pusat Hidrografi dan Oseanografi Angkatan Laut (Pushidrosal) bersama perwakilan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menjelaskan penggunaannya kepada para penyelam. “Ada tiga lokasi fokus penyelaman hari ini,” ujar Teddie.

USBL Transponder memiliki fungsi yang sama dengan penunjuk lokasi dengan bunyi ping (ping locator), yakni mencari kotak hitam di bawah air. USBL Transponder akan memberikan tanda di aplikasi komputer jika menangkap sinyal dari CVR.

Alat itu juga pernah digunakan mencari kotak hitam pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh di perairan Karawang, pada 2018. Pada Selasa (12/1) petang WIB, salah satu bagian dari kotak hitam, yakni flight data recorder (FDR) atau rekaman data penerbangan telah ditemukan tim penyelam dari TNI AL.





Klik disini sumber Link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *