“Cegahlah Kejahatan dengan Cara yang Baik”


Allah akan memelihara mereka dari godaan setan, dan menundukkan musuh-musuhnya

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Setiap manusia yang beriman diperintahkan untuk  mencegah perbuatan mungkar (kejahatan) dengan tangan, lisan dan hatinya. Dalam surah Al-Fussilat ayat 34 Allah SWT telah memberi tahu cegahlah kejahatan itu dengan cara yang tidak menambahkan kejahatan baru. 


Dalam menafsirkan Al-Fussilat ayat 34 Ibnu Katsir mengatakan, tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik. Maksudnya, barang siapa yang berbuat jahat terhadap dirimu, tolaklah kejahatan itu darimu dengan cara berbuat baik kepada pelakunya. 


Seperti yang dikatakan oleh Umar r.a., “Hukuman yang setimpal bagi orang yang durhaka kepada Allah karena menyakitimu ialah dengan cara kamu berbuat taat kepada Allah dalam menghadapinya.”


Dalam surah Al-Fusshilat ayat 34 ada kalimat. “Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.”Yang dimaksud dengan hamim ialah teman setia,” kata dia.


Ibnu Katsir menjelaskan, jika engkau berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat kepadamu, maka kebaikan yang kamu ulurkan kepadanya akan melunakkan hatinya dan berbalik menyukai dan menyenangimu. Hingga seakan-akan dia menjadi teman yang dekat denganmu dan akan tertanamlah di dalam hatinya rasa kasihan kepadamu dan ingin berbuat baik kepadamu. Kemudian dalam firman selanjutnya disebutkan. 


Dalam surah Al-Fusshilat ayat 35 Allah SWT menegaskan, sifat-sifat yang baik itu Allah berikam kepada orang-orang yang sabar.  “Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar.”


Artinya, kata Ibnu Katsir perintah sabar ini tidak dapat diterima, tidak dapat pula diamalkan kecuali hanyalah oleh orang yang sabar dalam menjalaninya, karena sesungguhnya hal ini amat berat pengamalannya.


Dalam surah Al-Fusshilat ayat 35 ada kalimat. “Dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” Ibnu Katsir mengatakan, orang tersebut yang mempunyai kebahagiaan yang besar dalam kehidupan dunia dan akhirat.


Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan tafsir ayat ini, bahwa Allah Swt. memerintahkan kepada orang-orang mukmin untuk bersabar saat sedang marah (emosi), penyantun dalam menghadapi orang yang tidak mengerti, dan memaaf bila disakiti. 


Apabila mereka melakukan pekerti ini, maka Allah akan memelihara mereka dari godaan setan, dan menundukkan bagi mereka musuh-musuh mereka sehingga seakan-akan menjadi teman yang sangat dekat.





kunjungi sumber konten

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *