Agama: Kesadaran Kemanusiaan atau Alat Politik Penguasa?


Islam berbeda dengan agama. Namun keduanya banyak sekali persamaannya. Agama secara kontekstual masuk ke dalam praktik tradisi Hindu dan Budha, tetapi secara umum dan tekstual di Indonesia dinarasikan sebagai institusi sakral “agama impor” (Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Budha, dan Konfusianisme).

Bahasa teks “agama” menjadi sangat ideologis dan otoritatif dari penguasa termasuk Islam dimasukkan ke dalam dimensi agama dalam narasi besar ideologis-otoritatif ini. Dari sinilah Islam dalam konteks agama bukan lagi suatu kesadaran, tetapi frame, institusi, alat pemaksa, dan pendisiplinan.

Dalam konteks refleksi Covid-19 di penghujung 2020 ini, Islam tetap didominasi dalam narasi besar tersebut. Islam masih belum menjadi kesadaran akan ke-manusia-annya terkoneksi dengan Tuhan semesta Alam. Padahal sejak awal Islam datang dengan perintah “Iqra” ditujukan sebagai kesadaran atas ke-manusia-annya yang merupakan bagian dari alam semesta. Hal ini kurang tersampaikan sebab sejak kecil umumnya kita diajari bahwa Nabi Muhammad itu “ummi” dalam konteks “baca-tulis”. Sesungguhnya, Nabi disuruh “Iqra” berkali-kali agar sadar betul akan ke-manusia-anya, yakni mengenal dan sadar akan dirinya berarti mengenal Tuhannya. Hal ini adalah proses emansipatoris.  

Apa itu Agama?

Agama berasal dari skrip bahasa Sansakerta. Secara literal agama adalah tradisi keduniawian; tradisi yang ada (ditujukan) bumi/dunia. Agama adalah kondisi sosial, kultural, dan alam yang damai, harmonis, seimbang, dan serba berkecukupan. Teks “Agama” bersumber dari tradisi Timur seperti Hindu dan Budha –Agama terkait dengan filsafat, kosmologi, dan pola-pola kegiatan meditasi dan tantrik. Agama terkait dengan olah jiwa terdalam (spiritualisme) dalam aktivitas misalnya meditasi. Term dan konteks agama berasal atau ada di dalam atau dari dalam tradisi Hindu dan Budha. Jadi istilah agama Hindu atau agama Budha sebenarnya wagu atau kurang tepat. Yang tepat, istilah agama sejajar dengan istilah dharma (Picard, 2011).

Istilah agama menjadi kata keseharian yang diangkat ke dimensi khusus ritual, transendental, dan norma tata aturan hubungan manusia dengan pemilik jagat raya, biasanya dinamakan Tuhan, Allah, God, atau apapun itu. Dalam hal ini, agama dijauhkan dari wilayah kesadaran praktis tetapi dimasukkan ke dalam wilayah abstraksi filosofis yang kurang praktis. Di sini agama menjadi suatu keterpaksaan, pengontrolan (imposing), atau dogma/doktrin jika belum disadari; agama bukan kesadaran.

Istilah agama juga diinstitusionalkan dalam konteks modernitas, sehingga pemilik otoritas tertentu seperti negara mempunyai definisi benar tentang apa yang disebut agama dan apa yang disebut bukan agama. Begitu arti dasar agama dari pihak yang memiliki otoritas: “might make right” (Lucius Annaeus Seneca).

Agama menjadi alat untuk mendisiplin warga negara, khususnya ketika modernitas kolonialisme Belanda datang ke Indonesia. Penjajah Belanda menggunakan agama sebagai alat pengontrol rakayat terjajah. Dari situ, muncul logika agama vs adat, agama vs kejawen, agama vs non-agama, dan logika sejenisnya yang terkonstruksi sampai jaman sekarang (Maarif, 2018).

Absraksi teks “agama” menjadi instrumen untuk menjaga stabilitas negara-bangsa yang abstrak-transendental. Agama menjadi “agamanisasi” menurut negara berdasarkan settingan pikirannya: Satu Tuhan, ada kitab suci, dan ada nabi. Hal ini memiliki konsekwensi bahwa agama lokal bukanlah agama (Picard, 2011). Agama menjadi alat negara, bukan kesadaran.

Agama dan Islam

Agama mempunyai persamaan atau irisan dengan Islam walaupun keduanya tidak ekuivalen atau sejajar. Agama dalam logika Hindu dan Budha mempunyai dimensi lebih spiritual dengan praktik-praktik nyata seperti meditasi, yoga, dan tantra (Picard, 2011); agama mempunyai kekhususan dan termaktub dalam kitab suci untuk urusan duniawi.

Islam mempunyai wilayah praktis yang lebih luas tanpa ada sekat sebab tidak ada pisahan antara yang spiritual dan yang non-spiritual dan sejenisnya. Untuk menjadi spiritual, dalam Islam tidak harus meditasi atau melakukan ritual khusus, seorang Muslim yang spiritual melihat orang miskin, dia bisa saja melihat Tuhan spiritualnya di objek si miskin. Fenomena ‘melihat’ dalam hal ini sudah sangat spiritual dan ‘agamis’, tanpa harus ada ritual khusus.

Agama adalah tradisi khusus dalam Hindu dan Budha yang kini seenaknya dimasukkan ke dalam logika mana saja asal bisa ‘mengetok’ (mengalahkan) pihak lain. Demikian pula Islam yang telah dibendakan menjadi sesuatu bukan proses kesadaran atau praktik ‘kerja’ spiritual-material. Agama dan Islam sama-sama dibekukan, dibendakan, lalu diambil alih oleh seseorang untuk mem-frame, untuk mengontrol, mendefinisikan, menguasai, dan menentukan hidup matinya orang lain.   

Islam adalah Kesadaran

Agama dalam konteks Hindu dan Budha adalah praktik emansipatoris dalam kerja-kerja meditasi. Manusia berusaha mencari kebebasan sejati sehingga sampai pada nirwana. Agama bukanlah setting penguasa untuk penaklukkan seseorang atau sekelompok orang. Agama adalah kerja-kerja spiritual-transendental menuju kesempurnaan hidup.

Irisan itulah yang memberi muatan Hindu, Budha, dan Islam menjadi universal untuk kemanusiaan. Shared values dari agama dan Islam adalah kesadaran. Makanya Ketika kita sholat harus sadar betul; dalam kondisi tidak mabok).

Islam sebagai kesadaran akan dirinya yang tiada dihadapan Tuhannya. Saking besar-Nya Tuhan, hebat-Nya Tuhan, kuat-Nya, manusia tak mampu memvisualisasikan Tuhan kecuali dirinya ‘meledak’.

Manusia adalah bayang-bayang Tuhan, tetapi bukan Tuhan sendiri. Ketika Tuhan menampakkan diri-Nya, maka bayangan (manusia) hilang seketika atau meledak. Begitulah hakekat manusia.

Kesadaran adalah kerja-kerja produktif demi takdir Allah. Kehendak manusia adalah suatu harapan manusia menuju sesuatu yang tengah atau sudah ditakdirkan Allah; manusia menyambut takdir. Sebuah kehendak bebas manusia adalah harapan manusia sendiri atas sesuatu yang tidak diketahuinya (disadarinya). Makanya bernama kehendak sedangkan di sisi Allah bernama takdir. Namun jika kehendak itu sudah diketahui manusia dan sudah terjadi, maka hal itu bernama takdir.

Weruh sak durunge winarah adalah kesadaran manusia ketika dirinya menjadi bukan apa apa; eksistensi akan non-eksistensi. Dalam kondisi ketiadaan, disitulah rasa/batin/inner-feeling seorang manusia terkoneksi dengan Tuhan-Nya. Konektivitas inilah yang mengkomunikasikan rahasia takdir Allah yang belum disadari manusia lalu disadari setelah terkondisikan nihil itu. Dalam Islam, fenomena ini dapat dipelajari dalam ilmu-ilmu tasawuf. Ilmu tasawuf yang dipraktekkan dan dialami (experiential), bukaan hanya sekedar ilmu saja (kesadaran akan objek yang diteliti).

***

Keadaran manusia adalah proses bagaimana dirinya menjalani proses emansipasi. Emansipasi ini adalah pelepasan diri yang material di dunia material dengan material menuju yang spiritual, tetapi masih dalam kondisi material. Jadi Ketika seseorang menjalani proses spiritual, seseorang tersebut tidak harus sepenuhnya spiritual, tetapi utamanya dalam kondisi sadar spiritual.

Misalnya, dalam keramaian di Mall atau pasar, seseorang tidak harus meditasi untuk mencapai dimensi spiritual tinggi, tetapi cukup dengan kondisi puasa atau kondisi ‘sadar melihat’ objek yang membuat kesadaran spiritualismenya tergugah dan terkoneksi dengan Tuhan-Nya. Oleh sebab itu, seseorang yang dianggap saleh, zuhud, sufi justru seseorang yang biasa-biasa saja –sulit diketahui secara material (empirik).

Dalam hal ini, Islam sebagai kesadaran menjadi penting. Islam sebagai kesadaran lahir Ketika Islam hadir di gua Hira dengan wahyu pertamanya Nabi Muhammad SAW. Di sini Islam bukan lagi menjadi objek yang diobjekkan terus menerus, tetapi sudah menjadi bagian dari life experiential seseorang. Agama Islam adalah kondisi kesadaran manusia bersama Tuhannya dimanapun dia berada, dalam dimensi spiritual sekaligus material, dimensi ruhaniah sekaligus badaniah, dan sakral sekaligus sekuler. Kesadaran manusia seperti itu adalah emansipatoris atas semua yang ada di dunia. Hal itu terjadi sebagai suatu proses lived experience terus menerus sampai diri seseorang tersebut meninggal dalam kesadaran dirinya yang tiada (karena yang ada hanya Tuhan).

Dari sinilah tragedi Covid-19 2020 mengajarkan agar manusia sadar betul (“Iqra) akan konektivitas dirinya dengan Tuhan. Manusia perlu sadar bahwa dirinya bukan apa-apa karena hanya merupakan bagian kecil dari alam semesta dan hanya bayangan Tuhan yang suatu ketika bisa hilang. Oleh sebab itu, manusia sadar betul tentang dirinya yang perlu hidup berdampingan dengan alam semesta, termasuk alam gaib. Siapa yang sadar akan dirinya, maka dia sadar akan Tuhannya. Dengan demikian, manusia akan terselamatkan (salam, selamat, Islam) dari tragedi seperti Covid-19 dengan menjaga posisi dirinya bersama alam semesta.

Editor: Yahya FR



Klik disini sumber Link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *